Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan

10 Mar 2014

Surat Untuk Bidadari Langit

Pukul satu tiga puluh.

Akhirnya aku hanya bisa duduk disini dan mencoba menuliskan segala yang berkecamuk dikepala. Kusambut hari ini dengan setengah hati bersorak syukur setengahnya lagi malah sibuk mengutuk sang waktu. Hari ini usiamu genap 54 tahun, ibu. Ingin sekali kuhadiahkan kau sepotong kue, atau apapun yang membuatmu bahagia. Tapi aku tahu kau tidak akan menyukainya,kau selalu berusaha menghindari budaya seperti itu perbuatan yang sia-sia katamu.

Semua hanya bisa kutumpahkan lewat tulisan ini, karena sungguh tidak tahu bagaimana untuk menguturakan segala sesuatunya secara langsung. Hei ini salahmu sendiri ibu. Siapa pula yang selalu menginspirasiku untuk menulis?. Diam-diam sejak dulu aku selalu mengamatimu melakukan hal yang serupa, ketika kau marah dengan seseorang dan ingin menyampaikan sesuatu yang serius kau selalu menulis dan menyuruhku mengantarkan surat itu. Awalnya bingung sangat bingung dengan tingkahmu itu, tapi kau pernah berbilang padaku bahwa hanya dengan menulis pikiran dan hatimu dapat berjalan bersesuaian dengan baik. Terkadang ketika kau berucap tidak semua tersampaikan dengan baik, bisa saja karena kau tidak tahu cara menyampaikannya ataupun sering kali yang tersampaikan adalah bukan hal yang dimaksudkan. Sekarang kebingunganku itu terjawab ibu, seringkali aku melakukan metode yang kau ajarkan.

 Kali ini giliranku untuk menuliskan surat ini, tidak ibu aku tidak sedang marah tapi aku memang ingin menyampaikan hal yang serius. Bahwa aku ingin berterima kasih pada-Nya karena telah menjadikanmu sebab dari kelahiranku, menjadikanmu sebab untuk menjadi pendidikku, dan menjadikanmu sebab untuk segala pencapaian asaku. Kau masih diberi umur, masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk berada dikeluarga ini itu karena memang kaulah jagoan kami.

 Masih banyak yang harus kau ajarkan pada kami, beritahu kami bagaimana bisa memiliki hati seluas dan sesabar dirimu. Tidakkah kau sering melihatku larut dalam ketidaksabaran? Larut dalam kemalasan? Larut dalam kebodohan? . Oleh karena itu kaupun harus memberitahu pada-Nya untuk memberimu umur yang panjang, biarkan kami terus banyak belajar darimu wahai bidadari langit.

mom,I love you!!
 -Maret 10, Happy birthday, mom




8 Feb 2014

Menyapa Tuan Bulan




Halo tuan bulan apa kabar? Akhir-akhir ini aku jarang memperhatikanmu dan berbincang padamu lagi seraya tangisan yang kukenal dengan sebutan hujan itu sedang rajin-rajinnya tumpah. Bukan tuan bulan, aku tidak ingin berbicara tentang hujan. Aku hanya ingin bermonolog padamu saja, menyampaikan padamu bahwa malam ini aku menatapmu dengan dengan dada yang penuh gemuruh. Tak tahu apa yang menyerangku, yang pasti dadaku rasanya penuh.

Tuan bulan apakah di atas sana pandanganmu lebih luas dariku? Ah, buat apa aku menanyakan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Aku sesungguhnya hanya ingin tahu, apakah kau melihatnya saat ini? Apa yang sedang dilakukannya? Apakah dia juga sedang menatapmu, berbicara padamu tentang aku, seperti aku berbicara tentang dia? Ataukah dia sedang bersibuk diri dengan dunia nya sendiri yang selama ini dia bangun dengan susah payah, pun boleh jadi dia sedang sibuk dengan banyak persediaan bintang yang dia punya layaknya kau tuan bulan.

Betapa walaupun begitu besar keingintahuanku tentang dia. Aku bersyukur karena tak memiliki pandangan luas sepertimu. Ketakutanku jauh lebih besar dan lebih memilih asumsi kosong untuk membuat duniaku tetap tenang.  Apapun itu semoga dia baik-baik saja dan senantiasa berbahagia menjalani harinya. Itu sudah cukup.

Aku bisa apa, sering aku merasa lelah tapi tetap saja selalu bisa kunikmati lelahku. Bukan salah dia.  Bukan juga aku tak ingin bertanya, beberapa kali kucoba untuk memanggil namanya, mencoba bertanya. Tapi saat kemudian wajah kita berhadapan, aku lalu terdiam, membeku sekaligus mencair. Maka kemudian hanya diam yang tersisa yah hanya diam.

Entahlah tuan bulan hanya dengan berbicara padamu akan membantu meringankan berat itu. Rasanya sudah terlalu banyak merepotkanmu. Berjanjilah untuk tidak menceritakan pada siapapun terutama pada dia. Maka tuan bulan, aku hanya ingin kau menjaganya dengan pelukanmu. Mintalah pada bintangmu untuk menunjukkannya jalan yang benar yang terbaik untuk menjalani harinya.

Ah ya, hampir lupa , terima kasih tuan bulan
Selamat malam…




29 Des 2013

What colour you are?


Bagi saya setiap orang mempunyai warnya nya masing-masing, tiap-tiap mereka akan benderang seiring jalannya hari. Tidak dapat dipungkiri dalam hidup kita memang memerlukan banyak warna agar mata ini akan selalu mencoba memandang dan memaknai.

Bahwa kau akan membutuhkan dia yang berwarna hijau ketika menginginkan ketenangan dan ingin melepas semua yang menekanmu.  Disaat yang lain kau akan membutuhkan sang merah ketika mendapati dirimu kehabisan alasan untuk melanjutkan tujuannmu untuk melanjutkan perjuangan agar kembali berani dan bersemangat untuk melangkah. Bahkan kau juga dapat belajar pada si abu-abu bahwa yang seperti dia juga ada, tidak gelap, tidak terang. Membingungkan. Perlu pendirian.

Namun ada saat nya dalam perjalananmu yang dipenuhi banyak warna itu, kau akan berhenti sejenak berbelok ataupun mencari arah menjauh dari keriuhan warna untuk kembali mencari sunyi membutuhkan hitam ataupun putih. Karena pada saat itu kau dapat berdamai dengan dirimu sendiri mencoba mengenali, memaknai,dan memberikan warna terbaik untuk diri sendiri.


Karena hidup adalah WARNA, dan kau adalah PELUKIS nya .....

4 Sep 2013

Meracau





Halo apakah malam ini kamu sedang sendirian? Kalau iya, berarti jawaban kita sama. Karena pun saat ini aku sedang sendirian menikmati indahnya malam lengkap dengan segala hiasan indahnya. Di sana masih ada bulan dan ratusan bahkan jutaan boleh jadi lebih dari milyaran bintang yang menemaninya, ah asik sekali kau bulan tak pernah merasakan sendiri.

Jangan tanya bagaimana menghabiskan malam dingin sendirian dengan memandangi langit yang pesonanya terlalu indah untuk dinikmati sendirian. Mati-matian ingin kuhadirkan kau disini menikmati keindahan ini bersama-sama, tapi ku tahu itu mustahil sungguh tidak mungkin. Bahwa untuk mengingatku pun kau mungkin sudah lupa atau mungkin tak ingin lagi.

Namun biarlah setidaknya aku masih bisa melihat bulan dan beribu bintang yang menyertainya sekaligus bercemburu kepada mereka. Yah ini memang aneh.  Betapa beruntungnya kau bulan dia bahkan mereka selalu ada menemani kau sendirian. Mungkinkah kau selalu menceritakan semuanya pada dia? Menumpahkan kesedihan yang seharusnya tumpah, menggantikan air matamu yang tiba-tiba urung hadir menjadi canda tawa. Hingga tak jadi kau bersedih kemudian sadar bahwa kau baik-baik saja masalahmu bahkan tak mampu mengalahkanmu.

Kalau sudah begini ingin sekali aku meminjam bintangmu wahai bulan, tapi aku tahu itu tidak boleh kau pasti tak mengijinkanku, bukan?. Karena aku paham tak satu pun seseorang ingin bintangnya diambil, hilang, ataupun hanya redup sedikit. Kecuali jika ia yang ingin berpindah pada satelit yang lainnya kau pun tidak boleh menahannya.

Entahlah aku tak mau memikirkanmu lagi bulan. Aku hanya ingin menikmati malam ini meresapi hingga sampai ke hatiku yang paling dalam hingga letih dan akhirnya menemukan jawaban untuk tidak bercemburu lagi padamu. Aku pun ingin bahagia meskipun dengan bintang yang tidak ingin lagi mengenal satelitnya.

25 Agu 2013

Ini Sudah Semester 5?

"Libur ingin kuliah, tiba saat nya kuliah ingin libur lagi"

Pernah kalian dengar kutipan itu? saya sendiri sudah bosan mendengarnya. Apakah kutipan itu berlaku pada kalian? saya pun tidak setuju untuk kondisi sekarang. Setelah 3 bulan lamanya berlibur akhirnya bosan juga, karena diiringi dengan aktifitas yang itu-itu saja. Pokoknya memang hanya ingin kuliah tidak ingin ditambahkan libur (yang mau nambah jga siapa... -__-)

Ceritanya besok aktifitas perkuliahan sudah berjalan lagi, ihiy. Dengan berarti saya sudah siap memasuki babak baru lagi: Semester 5. Rasa-rasanya angka 5 ini terasa demikian menyeramkan, sungguh waktu tidak terasa hingga bisa menemui angka 5 ini. Mungkin begitu pun dengan angka 6...,7..., dan selanjutnya yang menandakan kelak tidak ada kuliah lagi, tidak ada suasana dalam kelas bersama teman lagi, tidak akan disibukkan oleh tugas lagi.

Yah walaupun itu sekedar nanti!

 Dan untuk sekarang:


Jangan pernah bosan membaca dan belajar

Kegiatan melamun seperti ini harus dikurangi -__-

Mencoba bahagia apapun bentuk masalah di depan nanti

Bahwa tiap hari baru adalah kesempatan untuk memperbaiki apa yang seharusnya diperbaiki :)






Masih saja

Ceritanya aku ingin menulis tentang kamu. Ingin kamu tahu perasaan yang aku rasa. Namun apa daya sangat sulit kuungkapkan langsung padamu. Jadi biarlah tulisanku yang bercerita.

Akan kumulai sekarang!

Kurangkaikan kau mulai dari huruf ke huruf kemudian menjadi kata. Kata ini memiliki suatu arti. Selanjutnya kususunkan kembali kau kata demi kata menjadi kalimat. Kalimat yang memiliki makna.

Jadilah kalimat ini kutambahkan lagi dan lagi hingga membentuk suatu paragraf. Nampaknya tak cukup jika hanya sebuah, aku memerlukan lebih dari satu paragraf untuk menceritakannya padamu. Baiklah akan terus kucoba.

Tapi kenapa justru huruf yang menjadi kata yang membentuk kalimat dan tersusun menjadi paragraf ini tidak sama sekali bercerita?. Cerita yang ingin membuat kamu mengerti. Kumpulan paragraf ini gagal mewakili apa yang kurasakan.

Ah, aku masih saja. Tetap bodoh! tetap tidak bisa!

Sulit sekali mengatakan betapa aku menyayangimu, betapa aku merindukanmu!

Hei apakah aku baru saja mengatakannya?





12 Agu 2013

Curahan Untuk Laut

Aku selalu kagum, kepada ombak yang menari saling berkejar tiada lelah. Deburanmu terdengar merdu namun ternyata menambah sendu. Bergulung-gulung datang menyapaku seolah membawa pesan rindu yang kemudian memecah berkeping bertemu karang pantai.

Kepada laut yang biru, dihadapanmu aku selalu terpana. Memandang kagum pada hamparan birumu. Namun kau membuatku begitu penasaran, dengan segala keindahan yang kau kandung. Selalu saja penuh rahasia, membuatku makin jatuh hati.

Kepada laut yang biru, kembali kau menyelendup diam-diam ingatan tentang kita.  Tentang  jiwa-jiwa yang menari, berpijak dari satu titik ke titik lain. Menebar tawa, meluruhkan air mata, melahirkan banyak peristiwa.

Pada saat matahari menenggelamkan diri pada pedalamanmu, malam pun menyamarkan birumu. Tapi tenanglah, karena di kala birumu berubah menjadi menjadi kelabu pun aku masih tetap mencintaimu. Tetap ditempatku menyambut datangnya rembulan.

Maka bersenandunglah wahai rembulan,

Temani aku menghabiskan peliknya merindu. Sambil menunggu kelabu itu berubah menjadi biru kembali. Hingga matahari kembali dari persembunyiannya.


Karena aku terlanjur mencintaimu, biru.
 
© Copyright 2035 Tinta Maple
Theme by Yusuf Fikri