Tampilkan postingan dengan label Makassar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makassar. Tampilkan semua postingan

4 Jul 2013

we meet, we share, we act


Satu, dua, hingga tiga baju serasa sudah cukup. Tas batik kesayangan dan beberapa perlengkapan keseharian juga sudah terkemas rapi. "Ahh lagi pula cuma sehari, pikirku"!.

(Pesan Singkat Pagi Hari)

Kak Rhyma : Jihan bmana dek bisaji nyusul ke sini?

Balas: Kak tapi acara nya sudah mulai dari kemarin 

Kak Rhyma : Tidak apa-apa dek. Nah kalo jadi sebentar sekitar setengah 11 langsung mki ke penyebrangan Kayu Bangkoa di sana sudah ada kapal yang siap menyebrang, ingat dek kapalnya yang besar  kira-kira muat sekitar 100 orang.

Balas : okesip kalo bgtu kak.

Kubulatkan niatku untuk mengiyakan tawaran kali ini. Semua berawal dari tiba-tiba, saat bertemu Kak Rhyma diopening ceremony MIWF2013, kami adalah teman sekomunitas di Sekolah Rakyat KAMI. Setelah sedikit lama bercengkarama ia langsung mengajakku mengikuti camp yang diselenggarakannya di suatu pulau. Kali ini bukan untuk menjadi peserta, tapi jadi tukang foto kegiatan. Sempat kaget dan sama sekali tidak ingin mengiyakan tawaran ini. Tahu apalah saya tentang tekhnik mengambil gambar? Toh camera ini juga bukan milik saya hanya dengan modal pinjaman pada kakak untuk membawanya mengabadikan moment di MIWF2013. Tapi tawaran ini unik, dan rasa penasaran untuk mengikuti camp di sana menyesakkan pikiranku. Keraguan menyerangku kembali mengingat banyak yang harus kupersiapkan untuk menyambut tanggal 02, adalah moment penting untuk sahabat dan seorang special yang kelahirannya jatuh pada tanggal yang sama. Cukup memusingkan. Hanya dengan memanfaatkan waktu seefisien mungkin agar semua planning celebarate berjalan lancar dan tawaran Kak Rhyma dapat diindahkan.

Memasuki gerbang penyebrangan bernama Kayu Bangkoa untuk pertama kali, penyebrangan ini berada   diseblah utara anjungan Pantai Losari dan melewati Hotel Makassar Golden. Begitu banyak orang berlalu lalang tak ada satu pun yang kukenal. Hingga sampai pada ujung dermaga kebingungan hendak menaiki kapal yang mana toh semua besar dan memiliki tujuan yang sama : Pulau Barrang Lompo. Kupilih yang paling dekat dengan tampatku berdiri karena melihat masih ada beberapa tempat duduk yang kosong. Untuk pertama kalinya menaiki kapal seorang diri dan tidak pernah mengunjungi tempat tujuan sebelumnya. Degup kencang itu tak henti-henti nya menggangguku disaat berada ditengah kerumunan dalam kapal, hingga tak tahan lagi untuk bertanya kepada seorang bapak diseblah saya :

"pak, ini sampai ke pulau nya kira-kira berapa menit?"

"ohh, kita sampainya sekitar 1 jam dek! jawabnya"

*Nelan Ludah*

Barrang Lompo adalah salah satu pulau yang berjarak sekitar 13km dari kota Makassar. Pulaunya berbentuk bulat dan mempunyai lumayan banyak penduduk yang berdiam di sana. Suasana malam hari di Barrang Lompo cukup mencekam karena listrik akan dipadamkan, kemudian sulitnya menemukan jaringan membuat semuanya sempurna.

Camp disana diadakan oleh Global Peace Volunteer adalah suatu komunitas pecinta damai yang mempunyai cita-cita menanamkan cinta sesama manusia ditengah pluralitas yang banyak berbuah konflik saat ini. Peserta camp ini pun berasal dari seluruh pelusuk negri dari Sumatra hingga Papua yang jumlahnya 28 orang. Mereka sangat berantusias dapat menginjakkan kaki di tanah Makassar untuk mengisi waktu libur. Sesampainya di sana langsung saja saya melaksanakan tugas sebagai tukang foto karena materi sedang berlangsung hingga malam hari.

*mereka disuruh membuat jembatan dari koran kemudian
 mempersentasikan filosofi jembatan mereka

*drama in the night 

*service project langsung kepada masyarakat

Selama service project berlangsung terdapat satu fakta yang menjadi ironi pada salah satu penduduk pulau Barrang Lompo yang disurvey langsung oleh salah satu kelompok peserta. Seorang nenek bernama Diah yang mempunyai 2 orang cucu, mengaku tidak pernah mendapat kompensasi berupa BLSM oleh pemerintah padahal jika dilihat dari kondisi dan tempat tinggalnya beliau sangat pantas mendapat kompensasi itu. "Masalah ini bersumber karena tidak ratanya pembagian di pulau itu malah mereka yang berkecukupan malah yang menikmati kompensasi tersebut karena mereka adalah keluarga dari Pak RT, kata seorang warga.'' 

Berikut adalah salah satu bukti ketidakberhasilan pemerintah lagi, BBM memang tidak tepat sasaran. Apakah program pemberdayaan rakyat miskin berupa kompensasi-kompensasi itu juga tepat sasaran?


*pintu masuk rumah Nek Diah, dalam rumah 
hanya beralaskan tanah tanpa perabot ruang yang memadai

Melihat kondisi realitas seperti ini kami seluruh volunteer camp melakukan penggalangan dana untuk membantu sang Nenek, semua diluar rencana dan merupakan bentuk True Love persembahan kami untuk sesama.


*Berharap pemberian ini dapat berguna sebaik mungkin :")


*Proud of them

Pilihan saya untuk menghadiri camp adalah yang terbaik. Banyak bertemu orang-orang muda hebat dan bersemangat untuk berbuat kebaikan, secara tidak langsung juga mengikuti, mengambil hikmah dan pelajaran dari teori dalam kelas maupun direct project ke masyarakat. Ahh keberuntungan menemaniku lagi kali ini :")




*Akhirnya sempat nongol digambar, walaupun hanya 
dalam perjalanan pulang di kapal -__-"


Satu kalimat petikan lagu yang sering terngiang-ngiang dikepala ketika camp ini selesai:

we are one family, we are one family under god .....

28 Jun 2013

Sastra dan Makassar

Selama beberapa hari kaki saya senantiasa membawa langkahnya ke hadapan pintu kayu dengan gerendel kuno yang dikelilingi oleh tembok tebal nan kokoh. Langkahku tak terhenti hanya sampai di depan pintu, ia berjalan masuk ke dalam perut benteng dengan tampilan arsitektur  era 1600 an. Pun jika kau melihat dari ketinggian benteng ini tampak seperti tottem penyu yang siap masuk ke dalam pantai. Bernama Fort Rotterdam, merupakan salah satu tempat wisata bersejarah kebanggaan kami masyarakat kota Makassar. Namun langkahku kali ini tidak berteman niat untuk berwisata, mengkaji sejarah, maupun sekedar berfoto ria. Membutuhkan setahun penantian untuk melangkahkan kaki lagi disini tepatnya pada moment ini.

Makassar International Writers Festival 2013 (MIWF2013) adalah event tahunan paling ditunggu oleh mereka para pecinta tulisan, dan para penggiat seni lainnya. Selama 5 hari kami puas menyicipi udara segar sastra oleh mereka para penggulat sastra dari 8 Negara dan pelbagai pelosok Tanah Air. Seakan tak kenal waktu belasan program kebudayaan dilaksanakan dari pagi hingga malam. Adalah medan pembalajaran yang amat berharga jika dilewatkan. Begitu banyak tokoh menginspirasi beserta karya-karyanya. 




*Opening Ceremony MIWF2013
Salah satu nya adalah penyair legend yang dimiliki oleh Indonesia yang mempunyai darah Makassar ini yaitu Bapak Prof. Sapardi Djoko Damono. Sajak dan puisinya telah membumi dan banyak memberi inspirasi penyair-penyair lainnya. Seorang penerjemah puisi yang handal. Dan mempunyai dedikasi yang tinggi terhadap kemajuan sastra Indonesia dengan umur telah banyak dilahap waktu. Salah satu quote beliau yang paling kurenungkan dikepala saya adalah :

“Identitas seseorang mengalami perubahan tiap hari nya, sesuai informasi dan pengetahuannya”


*akhirnya bisa ambil pic bersama 

Selain beliau, penggiat sastra yang lainnya tak kalah hebatnya. Walaupun tidak semua dari mereka sempat untuk mengabadikan foto bersama.



Diskusi panel Kak Khrisna Pabichara penulis handal berdarah jeneponto menghasilkan tetralogi best seller sepatu Dahlan, beliau ramah nan kritis. Sangat lihai melantunkan sinrilli sambil berpuisi berbahasa Makassar. Dan Peter adalah penulis yang berasal dari negara komunis Hongria pada sesi ini banyak membahas tentang buku dan negaranya.



Kali ini berkesempatan dengan Bapak Joko Pinurbo adalah seorang penyair yang karyanya cukup humoris. Unik ketika beliau mengisahkan proses kreatifnya. Walaupun memulai karir diusia cukup tua, namun dengan berbekal tekun selama 20 tahun ia baru bisa menerbitkan buku pertamanya.

Sangat beruntung hingga sekarang kita dapat mengecup khasanah sastra Indonesia yang klasik hingga modern. Entah sastra akan bermetefora seperti apa sesuai perkembangan zaman menembus perjalanan waktu. Kita hanya perlu merawatnya. Menjawab panggilan hati untuk melahirkan karya-karya bermakna nan bermanfaat.

Merupakan salah satu bentuk cinta yang tulus terhadap tanah luhur adalah tahu dan meneruskan budayanya. Karena Makassar lahir dengan budaya nya yang unik, karena Makassar bukan kota anarkis seperti yang terbayang oleh mereka selama ini, karena Makassar tidak selebar layar TV saja.



-Dalam Hidup Seorang Penyair Yang Tekun Untuk Melahirkan Karya-Karya nya Selalu Ada Sentuhan Tangan Tak Terlihat 
(Joko Pinurbo)

21 Des 2012

Generasi Timur?



Melihat gedung Baruga A.P.Pettarani Universitas Hasanuddin hari ini teringat moment-moment PMB setahun silam. Bedanya kali ini baruga tidak diisi oleh para MABA berpakaian hitam-putih. Melainkan di isi oleh mereka dan kami, yang siap melihat langsung dan melahap informasi dari mereka sang pemimpin-pemimpin yang akhir-akhir ini sedang ramai dibicarakan khaylayak umum yang akhir-akhir ini memenuhi pentas media dengan tingkah ala out of the box masing-masing : Jusuf Kalla, Dahlan Iskan, Mahfud MD, dan Abraham Samad senang bisa bertemu kalian hari ini : )



Dimotori salah satu program menarik Metro TV, Mata Najwa yah seorang Najwa Shihab yang mempunyai mata bulat nan tajam menjadi daya tarik tersendiri. Sedikit bangga ketika Najwa mulai menyinggung bahwa baik dirinya maupun 2 orang guest start di antaranya Jusuf Kalla dan Abraham Samad sangat senang dengan kedatangan hari ini karena sekaligus pulang kampung. Mereka bagian dari dari orang timur, mereka bagian dari Makassar, dan tentunya mereka bagian dari Unhas sendiri. Ah beliau senior saya (sambil melirik pak JK)!, membatin.

Melihat kenyataan bahwa beberapa orang yang berpengaruh positif untuk negeri ini adalah dari rumpun saya membuat saya banyak berpikir lagi. Kami khususnya orang Makassar memang terkenal berani, terkenal bernyali, terkenal selalu spontan dalam mengambil sikap, terkenal mempunyai harga diri tinggi, namun selalu dinilai dan di bawah ke dalam ranah cara pandang yang berbeda oleh mereka yang kurang paham tentang budaya timur khususnya Makassar tersendiri. Untuk kasat mata selama ini media selalu rajin hanya menyiarkan tentang anarkisme yang terjadi di kota ini khususnya dikalangan pelajar, kerusuhan yang dibuat oleh Mahasiswa walaupun beberapa pada kenyataanya itupun di luar kendali mereka, hingga aksi bakar kampus yang dalam hal ini saya pun masih belum bisa membagi toleransi. 

Sisi positif dan negatif tidak bisa kita lepaskan dari kenyataan ini. Positifnya yakni nilai demokratis yang dimiliki oleh para mahasiswa masih sangat kuat walaupun terakumulasi dengan cara yang kadang meleset dari tujuan. Negatifnya paradigma yang terbangun oleh mereka khususnya di luar wilayah timur sudah terlanjur berbeda mereka tidak melihat dari sisi substansif. Dalam hal ini peran media tentulah sangat penting toh banyak hal luar biasa yang bisa dibanggakan oleh output maupun generasi muda kota ini. Tentunya dengan budaya dan sifat bernyali yang telah tertanam dari nenek moyang sang pelaut gigih kita.

*Sewaktu sedang menunggu di terminal Malang*

Ibu-Ibu : Adek Mahasiswa yah, dari mana?
Saya       : Iya, dari Unhas Makassar tante : )
Ibu-Ibu  : Wah jauh jga ngapain ke Malang dek, liburan?
Saya      : Ga... ada lomba tante hehe
Ibu-Ibu  : Unhas bisa jga hehe, oiy itu di Makasssar kok gitu yah dek dikit2 demo mahasiswa di sana kok pada anarkis semua kemarin itu yah anak Unhas sampai ada yg meninggal?
Saya       : waah yg kemarin itu bukan anak Unhas tapi UNM tante (emang universitas di Makassar Cuma Unhas ; /, membatin) ga jga kok tante media yang menyiarkan itu sedikit lebay tante buktinya kita di sana aman-aman saja mau pulang sampai tengah malam juga ga pernah kenapa-kenapa Makassar aman tente ga kasar juga!!
Ibu-ibu   : ohh begitu yah, tapi tetep aja tante masih agak serem kalau seandainya anak tante harus sekolah di sana.
Saya       : *^&%@!!!???*^%&*% zzzzzzzzzzZzzz (Kemudian memilih senyum dan kembali diam)

                Dan kejadian dan pertanyaan di atas menjadi makanan sehari-hari ketika berinteraksi dengan orang di luar rumpun yang sama sekali tidak mengerti tentang Makassar. Masih banyak kisah lain baik yang saya alami maupun pengakuan dari teman-teman dan ini wajib menjadi renungan tersendiri untuk kita. Para generasi muda wilayah timur Indonesia yang menurut saya mempunyai budaya serta kearifan lokal yang patut di apresiasi seta dioptimalkan, bukankah sang juara sesungguhnya selalu dilahirkan ditempat yang penuh dengan masalah?, buakankah sang pemimpin sejati harus banyak mencicipi tantangan yang akan membentuk dirinya? Maukah kita terus menerus dibawah diskriminasi kesalahan paradigma?

Saya rasa semua itu akan menjadi ajang pembuktian bagi mereka yang menjunjung tinggi budaya kita. Cukup mereka yang berintegritas seperti Jusuf Kalla dan Abraham Samad bisa dijadikan tolok ukur untuk melahirkan calon pemimpin dari bumi timur kita.

Intinya seorang pemimpin itu tidak boleh lari dari masalah dan jangan takut akan ancaman (Abraham Samad)

11 Jul 2012

Sarabba VS Cappucino



Malam itu saya terjebak pada ketidaksadaran bahwa malam itu adalah ‘sabtu malam’ mungkin ini adalah efek kelamaan libur.  Tidak mau kalah dengan pasangan muda-mudi yang lain di sabtu malam ini kami ikut meramaikan kota, tapi kami disini bukan sepasang kekasih tepatnya kami adalah kawanan yang eksistensinya lebih dari sekedar teman dan pacar yah mereka sahabat saya. Paradigma saya tentang malam minggu terlanjur negatif entah mengapa mereka selalu saja meganggap malam ini spesial di banding malam-malam yang lain. Macet dimana-mana, cafe full dipenuhi para pasangan, harga tiket bioskop jelas naik, fly over pun penuh. Jelas rumah dan kamar adalah tempat terbaik untuk malam yang lebih cocok disebut ‘sabtu malam’ itu walaupun kalimat ini identik untuk fakir asmara atau para jomblo tapi saya rasa mereka jauh lebih rasional upss baiklah maksud saya KAMI jauh rasional melihat fenomena ini yeaah ! ini kebenaran bukan pembenaran :p
 
“Okesip jadi kemanaki’ lagi ini malam? Si Jey ngotot”
“Sembarang deh yang jelas nongkrong saja dan minumnya yang angat2  !” saya nyahut dan si Pisaa ikut ngangguk
Setelah lama berkeliling cari tempat sesuai ternyata cafe-cafe yang cocok dengan kantong kami sudah full dipenuhi mereka sebaya kami. Hingga kami pun menyerah berkeliling dan saat itu sedang tepat di depan salah satu Mall di jalan Ratulangi.
“Bingungmaa mau kemanaa lagi -_____-“
“iya jey capekmaa juga” jawab Pisa
“yahsud momi d apa yang paling dekat yah di dalam saja” kembali saya nyahut
“hah..? cukupji itu uangkah?” si Jey protes
“ckupkaan saja, mki kemana lagi??” jawab saya pasrah
BCC menjadi pilihan terakhir dan terpaksa, sebelumnya kami memang ogah nongkrong di tempat macam ini. Cafe ini terkenal hanya untuk mereka yang punya kantong tebal umumnya orang yang sudah kerja dan om-om eksekutif pada nongkrong disini sangat kontras dengan kita mahasiswa kere yang nabung 2 hari hanya buat beli pulsa. Dengan lagak borju kami pun duduk dengan manisnya membalas senyum mbak-mbak yang mebawakan kami menu hidangan yang disambut kekagetan kami melih1at mbak-mbak itu memakai seragam SD putih-merah setelah melihat sekeliling ternyata memang konsep cafe ini menyuruh para karyawannya berpakaian seperti itu menjadi hal yang kreatif dan random sekali -___- . Setelah memesan, tiba-tiba kami merenung dan galau berjamaah rasa sesal mendalam menghampiri kami.
“kek nda srek sekali ini suasananya” si Jey memecah keheningan.
“Sekarang malah bepikirka’ yang hangat2 kan bukan disini saja, sarabba lebih asik keknya” saya berpendapat.
“Nah itu jugaa yang saya pikir sekarang Jian, huah bakalan hangatki weh ditambah gorengannya awweh nyamannya itu ! “ ternyata pisa sependapat.
Seketika otak saya mengikuti lamunan tentang Sarabba. Sarabba adalah minuman penghangat badan yang sangat dikenal di kalangan Bugis-Makassar. Minuman ini dibuat menggunakan jahe (Zingiber offcinale) sebagai ramuan dan aroma utamanya. Minuman sejenis mudah didapat di daerah Jawa Tengah seperti wedang jahe. Namun campuran gula aren dan santan-lah membuat sarabba lebih kental dari wedang jahe. Seperti Makassar, sarabba mengalami perubahan. Bagi sebagian orang, mereka memperlakukan sarabba layaknya minuman kesehatan. Ada yang mencampurnya dengan telur ayam kampung, susu kental, maupun mix antara telur dan susu. Dan jadilah kawanan gorengan semisal ubi goreng, perkedel jagung, tahu goreng, tempe goreng, dan pisang goreng menjadi makanan pendamping sarabba. Kalau ditanya masalah harga? Sarabba jelas sangat bersahabat dengan kantong anda.
Kami mencoba menikmati malam itu dengan cappucino dan hot cokelat masing-masing. Rasa kecewa kembali menghampiri saya setelah menyeguk capuccino itu yang sangat tidak berdamai dengan lidah saya, selain tidak terlalu menyukai kopi kehangatan sarabba masih terbayang di lidah saya.

Dan pelajaran berharga kami peroleh dari malam ini, kami para generasi muda kota ini tengah banyak mengalami perubahan. Kebanyakan dari kami hanya memburu prestise dengan menggunakan hasil dan budaya mereka kaum barat. Padahal jelas kita mempunyai selera dan budaya sendiri yang lahir dari pola hidup kita masing-masing.
“Misi mbak tolong bill-nya di meja ini yah”
“Oh iya, misi ini mbak” jawab si mbak-mbak
“HADDEHHHH T_T nda bisami lebih mahal ini mbak 3 gelasji lagi”
Kami pun pulang sambil pukpuk dompet dan berharap besok ada keajaiban M-KIOS tiba-tiba sms tanpa disuruh.



                                


9 Jan 2012

Slogan keliru “Makassar menuju kota dunia”


Terlalu banyak hal dalam kehidupan hal di depan mata yang baik kita sadari maupun tidak disadari yang kita apresiasi maupun yang tidak kita setujui terjadi begitu saja dan sadar sebagai penanggung tanggung jawab intelektualitas seyogyanya kita memang menganalisa dan mengavaluasi suatu ketimpangan dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan.
Kali ini saya ingin mengkritik tentang judul yang tertera jelas di atas Slogan keliru “Makassar menuju kota dunia” terlintas memang apa yang salah dengan majunya kota ini menjadi kota dunia bukankah akan berdampak lebih baik inikan globalisasi ??, tapii
Coba kembali lihat realita yang terjadi pantaskah slogan ini tertera di dimana-mana dengan keadaan dan kenyatan kota yang ‘5 semakin ini:  Semakin semrawut, semakin macet, semakin kotor, semakin tak nyaman, dan semakin tidak jelas mau dibawa kemana.  
Apa yang dibutuhkan kota ini, tak lain adalah pertanyaan yang dijawab secara tepat.

Pertanyaan seperti: “Jika pemkot tidak dapat mengendalikan peningkatan penduduk, apa yang harus dilakukan? Jika tidak dapat mengantisipasi tingkat urbanisasi, apa yang harus dilakukan? Jika tidak dapat menahan laju jumlah kendaraan, untuk mengurangi kemacetan, apa yang harus dilakukan? Jika kesemrawutan tata kota sudah terlanjur terjadi, apa yang harus dilakukan? Jika gudang-gudang tetap tidak bisa disterilkan dalam kota, apa yang harus dilakukan? Jika lahan terbuka hijau semakin menyempit digantikan oleh tumbuhan beton, apa yang harus dilakukan? Jika pedagang kaki lima semakin menjamur dan sulit dikendalikan, apa yang harus dilakukan? Dan beberapa pertanyaan lainnya.
Pertanyaan-pertanyaan ini adalah kenyataan yang dilahirkan oleh pemkot sendiri yang tak mampu dijawabpun, jika bisa, atau ada solusi yang didapatkan, itu pun belum selesai sampai di situ. Pertanyaan yang kemudian lahir adalah mampukah wali kota menerapkan solusi itu?
Nah bandingkan saja kota yang yang mempunyai slogan panjang berbunga-bunga ini dengan kota Solo dan Jogja adalah dua kota yang bersahaja yang membuktikan pembangunan kotanya dengan cara tegas namun berpihak pada warga yang tidak peduli pada slogan macam-macam, apalagi kota dunia, sepanjang warganya merasa nyaman. Apalah artinya meraih pengakuan dunia di tengah ketidaknyamanan warga(?) Tentang kondisi kota, yang lebih tahu dan lebih merasakannya tentu adalah warga, bukan anggota forum internasional.
Disana masih jelas terasa kualitas kebudayaan yang sangat kental yang menjadi daya tarik pribadi kota itu dengan struktur yang bersahaja namun mengandung value tersendiri walaupun sudah menjadi salah satu komunitas urban di Indonesia, melihat dari sisi social Makassar mulai berdiri dengan beberapa prinsip dasar bahwa hidup ideal adalah hidup bersama dan merasa senasib-sepenanggungan sebagaimana prinsip orang Bugis padaidi, padaelo, sipatuo, sipatokkong. Prinsip yang mengandung makna relevan, juga dapat ditemui di kalangan orang-orang Makassar seperti: abbulo sibatang (bermakna pentingnya kebersamaan dalam segala hal). Hal ini identik dengan pernyataan Lawson (2001) bahwa pengelompokan permukiman terbentuk atas dasar kepercayaan dan latar budaya masyarakat. Bahkan menurut penulis buku The Language of Space ini, bahwa anggota masyarakat hidup dalam proses pemanfaatan wilayah pemukiman untuk kelangsungan tradisi atau warisan budaya ini karena adanya fanatisme etnosentrisme yang dulu menjadi factor demarkasi ekologis berdasarkan etnik di Makassar. Social-kultur bahkan pencapaian menuju kota dunia itu akan semakin memperjelas demarkasi atau pemisahan yang terjadi serta tumpang tindih pada proses sosialnya.
Kuatnya arus desakan kaum pemilik modal kota mengekspansi wilayah ke arah pemukiman-pemukiman berbasis (budaya) lokal, pada gilirannya telah meluluhlantakkan basis-basis kultural yang semestinya menjadi warna dan nuansa tersendiri dari wajah kota Makassar. Akibatnya, identitas (jati diri) sebuah kota (Makassar) pun hilang secara gradual digantikan oleh identitas baru yang semu.

Akhirnya, hanya beberapa identitas sosial dan simbol kultural etnik yang masih tersisa oleh “ganasnya” gelombang modernisasi dan globalisasi kota. Sebut saja identitas perkampungan orang-orang Melayu, dewasa ini hanya dapat dilihat melalui Masjid Makmur Melayu, jejak komunitas orang-orang Wajo pada Masjid Taqwa, peninggalan komunitas orang-orang Maluku pada Masjid Maluku, dan Klenteng-kelenteng di Jalan Sulawesi sebagai jejak perkampungan orang-orang Tionghoa di Makassar. 

Dalam kaitannya dengan kontruksi kultural, maka perkembangan Kota Makassar sejauh ini lebih diwarnai oleh ideologi baru dan strategi politik penguasa. Dengan demikian, tidak adanya kelompok strategis (seperti kata Evers) yang mampu mendominasi kontruksi kultural kota, maka sama artinya membuka ruang sekaligus peluang kepada struktur-struktur lain muncul dan kotapun akhirnya akan tampil plural (majemuk). Kondisi seperti ini pada gilirannya akan berkembang menjadi fragmentasi dimana masing-masing kelompok sosial menduduki ruang-ruang tertentu yang cukup jelas garis demarkasinya, inikah dampak dari menuju kota dunia itu?
Dan menurut saya tidak usah terlalu bermuluk-muluk masih banyak pertanyaan yang tidak sanggup dijawab !! Ke depan, Makassar nampaknya membutuhkan wali kota yang tidak banyak omong namun terbukti bekerja dengan tegas. Warga tidak butuh slogan panjang, berbunga-bunga, melambung tapi kosong. Kota Makassar lima tahun ke depan membutuhkan sosok yang berani membuktikan kemampuannya untuk menyamankan kota ini dari kemacetan. Itu saja!
Tapi apa boleh buat, kota kita ini semakin dipenuhi pertanyaan. Apakah wali kota tidak bisa menjawab? Bisa! Bahkan lancar dan mantap jawaban-jawabannya. Apakah kemudian itu sesuai atau tidak, dijalankan atau tidak, itu persoalan lain; dan itu adalah bahasa kegagalan ala penguasa. Dan yang pasti, kesemrawutan dan kemacetan yang terjadi di Makassar adalah akibat yang ditimbulkan dari pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan secara sadar dan cermat; yang tidak mungkin luput dari pengetahuan wali kota.
Kota yang diatur orang yang tidak bisa mengatur dirinya sendiri. Kesembrawutan Makassar, cermin pribadi sang penguasanya !! Sekian.


 
© Copyright 2035 Tinta Maple
Theme by Yusuf Fikri