Kalyla,
hari ini kuliah seperti biasanya. Bangun pagi-pagi. Senyum sumringah. Dia
menyukai hari ini. Tiba di kampus 10 menit sebelum masuk ke kelas. Masih sempat
SMS sana, SMS sini mengabari dirinya yang masih sendiri memohon teman-teman nya
agar cepat datang. Dia terlalu malu menunggu sendirian. Terlebih lagi untuk
hari kamis, kelas dia berdampingan dengan sang pemilik mata sendu namun tajam
berisikan sejuta pesan bermakna abu-abu yah ketidakjelasan itu yang membuat nya
selalu merenung untuk mengingatnya, merenung untuk memikirkannya, kemudian
merenung lagi mengapa ia harus merenung dan mengorbakan waktu hanya untuk
merenungkan mata itu. Namun jelaslah
mengapa hari ini Kalyla memilih datang lebih awal.
Seperti
yang terjadi minggu-minggu sebelumnya. Kalyla melirik berkali-kali ke depan. Ia
sedang menunggu. Menunggu pemuda itu sekedar melewati kelasnya. Resah sekali.
Seperti minggu kemarin, hari ini Kalyla ingin berpura-pura berpapasan dengan
alasan mengambil absen kelas kemudian tidak sengaja berpapasan dengannya.
Sedikit saling menyapa, lantas basa-basi sebelum ke tempat tujuan
masing-masing. Tetapi nampaknya pemuda itu belum menunjukkan tanda-tanda
sebagaimana ia harapkan.
Detik
demi detik, waktu berjalan terasa amat lambat. “Ayolah lakukan saja,” bujuk
separuh jantungnya,
“Bodoh! Kau hanya akan mempermalukan dirimu saja!” separuh
jantungnya lagi menyela dengan sinisnya.
“Hai
Azha! Kalyla berusaha menegur senormal mungkin. Tersenyum selepas mungkin.
“Hai
Kalyla ! Sambil mengangkat kepalanya kemudian balas tersenyum.
“Mau
ke mana?”
“Ambil
absen, kamu?”
“Ke
kelas”
“oh
oke : )
“
“Oke : )
“
Sudah
tertebak. “Kamu bodoh Kalyla! Kenapa masih terus menegurnya? Ingat harga diri!”
umpatnya dalam hati.
Azha,
hari ini kuliah seperti biasanya. Bangun pagi-pagi. Senyum sumringah. Dia
menyukai hari ini. Tiba di kampus 10 menit sebelum masuk ke kelas. Masih sempat
SMS sana, SMS sini mengabari dirinya yang masih sendiri memohon teman-teman nya
agar cepat datang. Dia terlalu malu menunggu sendirian. Terlebih lagi untuk
hari kamis, kelas dia berdampingan dengan sang pemilik senyum manis namun ada
kesenduan di dalamnya berisikan sejuta
pesan bermakna abu-abu yah ketidakjelasan itu yang membuat nya selalu merenung
untuk mengingatnya, merenung untuk memikirkannya, kemudian merenung lagi
mengapa ia harus merenung dan mengorbakan waktu hanya untuk merenungkan senyum itu. Namun jelaslah mengapa hari ini
Azha memilih datang lebih awal.
Seperti
yang terjadi minggu-minggu sebelumnya. Azha memperbaiki gerak langkahnya. Ia
sedang bersiap. Bersiap melewati kelas
gadis itu. Resah sekali. Seperti minggu kemarin, hari ini Azha ingin
berpura-pura tergesa-gesa sebelum masuk ke kelas kemudian tidak sengaja
berpapasan dengannya. Sedikit saling menyapa, lantas basa-basi sebelum ke
tempat tujuan masing-masing. Tetapi nampaknya
gadis itu belum menunjukkan tanda-tanda sebagaimana ia harapkan.
Detik
demi detik, waktu berjalan terasa amat lambat. “Kali ini kamu yang harus
menegurnya duluan, ayolaaah!!” bujuk separuh jantungnya namun separuh
jantungnya lagi menyela dengan sinisnya.
“Hai
Azha ! Kalylaa berusaha menegur senormal mungkin. Tersenyum selepas mungkin.
“Hai
Kalyla ! Sambil mengangkat kepalanya kemudian balas tersenyum.
“Mau
ke mana?”
“Ambil
absen, kamu?”
“Ke
kelas”
“oh
oke : )
“
“Oke : )
“
Sudah
tertebak. Dasar bodoh! Come on man apa yang salah denganmu? Masih banyak
basa-basi menarik selain jawaban “oke” untuk menghabiskan sedikit waktu lagi
untuk melihat senyumnya! Umpatnya dalam hati.
0 komentar:
Posting Komentar