26 Des 2012

Sepercik Cerita Cinta Kalyla #Part 1



Kalyla, hari ini kuliah seperti biasanya. Bangun pagi-pagi. Senyum sumringah. Dia menyukai hari ini. Tiba di kampus 10 menit sebelum masuk ke kelas. Masih sempat SMS sana, SMS sini mengabari dirinya yang masih sendiri memohon teman-teman nya agar cepat datang. Dia terlalu malu menunggu sendirian. Terlebih lagi untuk hari kamis, kelas dia berdampingan dengan sang pemilik mata sendu namun tajam berisikan sejuta pesan bermakna abu-abu yah ketidakjelasan itu yang membuat nya selalu merenung untuk mengingatnya, merenung untuk memikirkannya, kemudian merenung lagi mengapa ia harus merenung dan mengorbakan waktu hanya untuk merenungkan  mata itu. Namun jelaslah mengapa hari ini Kalyla memilih datang lebih awal.

Seperti yang terjadi minggu-minggu sebelumnya. Kalyla melirik berkali-kali ke depan. Ia sedang menunggu. Menunggu pemuda itu sekedar melewati kelasnya. Resah sekali. Seperti minggu kemarin, hari ini Kalyla ingin berpura-pura berpapasan dengan alasan mengambil absen kelas kemudian tidak sengaja berpapasan dengannya. Sedikit saling menyapa, lantas basa-basi sebelum ke tempat tujuan masing-masing. Tetapi nampaknya pemuda itu belum menunjukkan tanda-tanda sebagaimana ia harapkan. 

Detik demi detik, waktu berjalan terasa amat lambat. “Ayolah lakukan saja,” bujuk separuh jantungnya, 
“Bodoh! Kau hanya akan mempermalukan dirimu saja!” separuh jantungnya lagi menyela dengan sinisnya.

“Hai Azha! Kalyla berusaha menegur senormal mungkin. Tersenyum selepas mungkin.
“Hai Kalyla ! Sambil mengangkat kepalanya kemudian balas tersenyum.
“Mau ke mana?”
“Ambil absen, kamu?”
“Ke kelas”
“oh oke : )
“Oke : )

Sudah tertebak. “Kamu bodoh Kalyla! Kenapa masih terus menegurnya? Ingat harga diri!” umpatnya dalam hati.

Azha, hari ini kuliah seperti biasanya. Bangun pagi-pagi. Senyum sumringah. Dia menyukai hari ini. Tiba di kampus 10 menit sebelum masuk ke kelas. Masih sempat SMS sana, SMS sini mengabari dirinya yang masih sendiri memohon teman-teman nya agar cepat datang. Dia terlalu malu menunggu sendirian. Terlebih lagi untuk hari kamis, kelas dia berdampingan dengan sang pemilik senyum manis namun ada kesenduan di dalamnya  berisikan sejuta pesan bermakna abu-abu yah ketidakjelasan itu yang membuat nya selalu merenung untuk mengingatnya, merenung untuk memikirkannya, kemudian merenung lagi mengapa ia harus merenung dan mengorbakan waktu hanya untuk merenungkan  senyum itu. Namun jelaslah mengapa hari ini Azha memilih datang lebih awal.

Seperti yang terjadi minggu-minggu sebelumnya. Azha memperbaiki gerak langkahnya. Ia sedang bersiap. Bersiap melewati  kelas gadis itu. Resah sekali. Seperti minggu kemarin, hari ini Azha ingin berpura-pura tergesa-gesa sebelum masuk ke kelas kemudian tidak sengaja berpapasan dengannya. Sedikit saling menyapa, lantas basa-basi sebelum ke tempat tujuan masing-masing. Tetapi nampaknya  gadis itu belum menunjukkan tanda-tanda sebagaimana ia harapkan.

Detik demi detik, waktu berjalan terasa amat lambat. “Kali ini kamu yang harus menegurnya duluan, ayolaaah!!” bujuk separuh jantungnya namun separuh jantungnya lagi menyela dengan sinisnya.

“Hai Azha ! Kalylaa berusaha menegur senormal mungkin. Tersenyum selepas mungkin.
“Hai Kalyla ! Sambil mengangkat kepalanya kemudian balas tersenyum.
“Mau ke mana?”
“Ambil absen, kamu?”
“Ke kelas”
“oh oke : )
“Oke : )

Sudah tertebak. Dasar bodoh! Come on man apa yang salah denganmu? Masih banyak basa-basi menarik selain jawaban “oke” untuk menghabiskan sedikit waktu lagi untuk melihat senyumnya! Umpatnya dalam hati.


0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright 2035 Tinta Maple
Theme by Yusuf Fikri