21 Des 2012

Generasi Timur?



Melihat gedung Baruga A.P.Pettarani Universitas Hasanuddin hari ini teringat moment-moment PMB setahun silam. Bedanya kali ini baruga tidak diisi oleh para MABA berpakaian hitam-putih. Melainkan di isi oleh mereka dan kami, yang siap melihat langsung dan melahap informasi dari mereka sang pemimpin-pemimpin yang akhir-akhir ini sedang ramai dibicarakan khaylayak umum yang akhir-akhir ini memenuhi pentas media dengan tingkah ala out of the box masing-masing : Jusuf Kalla, Dahlan Iskan, Mahfud MD, dan Abraham Samad senang bisa bertemu kalian hari ini : )



Dimotori salah satu program menarik Metro TV, Mata Najwa yah seorang Najwa Shihab yang mempunyai mata bulat nan tajam menjadi daya tarik tersendiri. Sedikit bangga ketika Najwa mulai menyinggung bahwa baik dirinya maupun 2 orang guest start di antaranya Jusuf Kalla dan Abraham Samad sangat senang dengan kedatangan hari ini karena sekaligus pulang kampung. Mereka bagian dari dari orang timur, mereka bagian dari Makassar, dan tentunya mereka bagian dari Unhas sendiri. Ah beliau senior saya (sambil melirik pak JK)!, membatin.

Melihat kenyataan bahwa beberapa orang yang berpengaruh positif untuk negeri ini adalah dari rumpun saya membuat saya banyak berpikir lagi. Kami khususnya orang Makassar memang terkenal berani, terkenal bernyali, terkenal selalu spontan dalam mengambil sikap, terkenal mempunyai harga diri tinggi, namun selalu dinilai dan di bawah ke dalam ranah cara pandang yang berbeda oleh mereka yang kurang paham tentang budaya timur khususnya Makassar tersendiri. Untuk kasat mata selama ini media selalu rajin hanya menyiarkan tentang anarkisme yang terjadi di kota ini khususnya dikalangan pelajar, kerusuhan yang dibuat oleh Mahasiswa walaupun beberapa pada kenyataanya itupun di luar kendali mereka, hingga aksi bakar kampus yang dalam hal ini saya pun masih belum bisa membagi toleransi. 

Sisi positif dan negatif tidak bisa kita lepaskan dari kenyataan ini. Positifnya yakni nilai demokratis yang dimiliki oleh para mahasiswa masih sangat kuat walaupun terakumulasi dengan cara yang kadang meleset dari tujuan. Negatifnya paradigma yang terbangun oleh mereka khususnya di luar wilayah timur sudah terlanjur berbeda mereka tidak melihat dari sisi substansif. Dalam hal ini peran media tentulah sangat penting toh banyak hal luar biasa yang bisa dibanggakan oleh output maupun generasi muda kota ini. Tentunya dengan budaya dan sifat bernyali yang telah tertanam dari nenek moyang sang pelaut gigih kita.

*Sewaktu sedang menunggu di terminal Malang*

Ibu-Ibu : Adek Mahasiswa yah, dari mana?
Saya       : Iya, dari Unhas Makassar tante : )
Ibu-Ibu  : Wah jauh jga ngapain ke Malang dek, liburan?
Saya      : Ga... ada lomba tante hehe
Ibu-Ibu  : Unhas bisa jga hehe, oiy itu di Makasssar kok gitu yah dek dikit2 demo mahasiswa di sana kok pada anarkis semua kemarin itu yah anak Unhas sampai ada yg meninggal?
Saya       : waah yg kemarin itu bukan anak Unhas tapi UNM tante (emang universitas di Makassar Cuma Unhas ; /, membatin) ga jga kok tante media yang menyiarkan itu sedikit lebay tante buktinya kita di sana aman-aman saja mau pulang sampai tengah malam juga ga pernah kenapa-kenapa Makassar aman tente ga kasar juga!!
Ibu-ibu   : ohh begitu yah, tapi tetep aja tante masih agak serem kalau seandainya anak tante harus sekolah di sana.
Saya       : *^&%@!!!???*^%&*% zzzzzzzzzzZzzz (Kemudian memilih senyum dan kembali diam)

                Dan kejadian dan pertanyaan di atas menjadi makanan sehari-hari ketika berinteraksi dengan orang di luar rumpun yang sama sekali tidak mengerti tentang Makassar. Masih banyak kisah lain baik yang saya alami maupun pengakuan dari teman-teman dan ini wajib menjadi renungan tersendiri untuk kita. Para generasi muda wilayah timur Indonesia yang menurut saya mempunyai budaya serta kearifan lokal yang patut di apresiasi seta dioptimalkan, bukankah sang juara sesungguhnya selalu dilahirkan ditempat yang penuh dengan masalah?, buakankah sang pemimpin sejati harus banyak mencicipi tantangan yang akan membentuk dirinya? Maukah kita terus menerus dibawah diskriminasi kesalahan paradigma?

Saya rasa semua itu akan menjadi ajang pembuktian bagi mereka yang menjunjung tinggi budaya kita. Cukup mereka yang berintegritas seperti Jusuf Kalla dan Abraham Samad bisa dijadikan tolok ukur untuk melahirkan calon pemimpin dari bumi timur kita.

Intinya seorang pemimpin itu tidak boleh lari dari masalah dan jangan takut akan ancaman (Abraham Samad)

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright 2035 Tinta Maple
Theme by Yusuf Fikri