Melihat gedung Baruga
A.P.Pettarani Universitas Hasanuddin hari ini teringat moment-moment PMB
setahun silam. Bedanya kali ini baruga tidak diisi oleh para MABA berpakaian
hitam-putih. Melainkan di isi oleh mereka dan kami, yang siap melihat langsung
dan melahap informasi dari mereka sang pemimpin-pemimpin yang akhir-akhir ini
sedang ramai dibicarakan khaylayak umum yang akhir-akhir ini memenuhi pentas
media dengan tingkah ala out of the box masing-masing : Jusuf Kalla, Dahlan
Iskan, Mahfud MD, dan Abraham Samad senang bisa bertemu kalian hari ini : )
Dimotori salah satu program
menarik Metro TV, Mata Najwa yah seorang Najwa Shihab yang mempunyai mata bulat
nan tajam menjadi daya tarik tersendiri. Sedikit bangga ketika Najwa mulai
menyinggung bahwa baik dirinya maupun 2 orang guest start di antaranya Jusuf
Kalla dan Abraham Samad sangat senang dengan kedatangan hari ini karena
sekaligus pulang kampung. Mereka bagian dari dari orang timur, mereka bagian
dari Makassar, dan tentunya mereka bagian dari Unhas sendiri. Ah beliau senior
saya (sambil melirik pak JK)!, membatin.
Melihat kenyataan bahwa beberapa
orang yang berpengaruh positif untuk negeri ini adalah dari rumpun saya membuat
saya banyak berpikir lagi. Kami khususnya orang Makassar memang terkenal berani,
terkenal bernyali, terkenal selalu spontan dalam mengambil sikap, terkenal
mempunyai harga diri tinggi, namun selalu dinilai dan di bawah ke dalam ranah
cara pandang yang berbeda oleh mereka yang kurang paham tentang budaya timur
khususnya Makassar tersendiri. Untuk kasat mata selama ini media selalu rajin
hanya menyiarkan tentang anarkisme yang terjadi di kota ini khususnya
dikalangan pelajar, kerusuhan yang dibuat oleh Mahasiswa walaupun beberapa pada
kenyataanya itupun di luar kendali mereka, hingga aksi bakar kampus yang dalam
hal ini saya pun masih belum bisa membagi toleransi.
Sisi positif dan negatif tidak
bisa kita lepaskan dari kenyataan ini. Positifnya yakni nilai demokratis yang
dimiliki oleh para mahasiswa masih sangat kuat walaupun terakumulasi dengan
cara yang kadang meleset dari tujuan. Negatifnya paradigma yang terbangun oleh
mereka khususnya di luar wilayah timur sudah terlanjur berbeda mereka tidak
melihat dari sisi substansif. Dalam hal ini peran media tentulah sangat penting
toh banyak hal luar biasa yang bisa dibanggakan oleh output maupun generasi
muda kota ini. Tentunya dengan budaya dan sifat bernyali yang telah tertanam
dari nenek moyang sang pelaut gigih kita.
*Sewaktu sedang menunggu di
terminal Malang*
Ibu-Ibu : Adek Mahasiswa yah, dari mana?
Saya : Iya, dari Unhas Makassar tante : )
Ibu-Ibu : Wah jauh jga ngapain ke Malang dek, liburan?
Saya : Ga... ada lomba tante hehe
Ibu-Ibu : Unhas bisa jga hehe, oiy itu di Makasssar kok gitu yah dek dikit2
demo mahasiswa di sana kok pada anarkis semua kemarin itu yah anak Unhas sampai
ada yg meninggal?
Saya : waah yg kemarin itu bukan anak Unhas tapi UNM tante (emang
universitas di Makassar Cuma Unhas ; /, membatin) ga jga kok tante media yang
menyiarkan itu sedikit lebay tante buktinya kita di sana aman-aman saja mau
pulang sampai tengah malam juga ga pernah kenapa-kenapa Makassar aman tente ga
kasar juga!!
Ibu-ibu : ohh begitu yah, tapi tetep aja tante masih agak serem kalau
seandainya anak tante harus sekolah di sana.
Saya : *^&%@!!!???*^%&*%
zzzzzzzzzzZzzz (Kemudian memilih senyum dan kembali diam)
Dan
kejadian dan pertanyaan di atas menjadi makanan sehari-hari ketika berinteraksi
dengan orang di luar rumpun yang sama sekali tidak mengerti tentang Makassar.
Masih banyak kisah lain baik yang saya alami maupun pengakuan dari teman-teman
dan ini wajib menjadi renungan tersendiri untuk kita. Para generasi muda
wilayah timur Indonesia yang menurut saya mempunyai budaya serta kearifan lokal
yang patut di apresiasi seta dioptimalkan, bukankah sang juara sesungguhnya
selalu dilahirkan ditempat yang penuh dengan masalah?, buakankah sang pemimpin
sejati harus banyak mencicipi tantangan yang akan membentuk dirinya? Maukah
kita terus menerus dibawah diskriminasi kesalahan paradigma?
Saya rasa semua itu akan menjadi
ajang pembuktian bagi mereka yang menjunjung tinggi budaya kita. Cukup mereka
yang berintegritas seperti Jusuf Kalla dan Abraham Samad bisa dijadikan tolok
ukur untuk melahirkan calon pemimpin dari bumi timur kita.
Intinya seorang pemimpin itu tidak boleh lari dari masalah dan jangan
takut akan ancaman (Abraham Samad)
0 komentar:
Posting Komentar