13 Jan 2013

Nilai Dari Penaklukan Konstantinopel



Terdapat 3 hal dalam urgensi memperjuangkan sesuatu : Niat,Tekad, dan Memulai

Sabtu berkah kali ini sangat menginspirasi. Ingin berbagi inspirasi dari kegiatan majelis ilmu tadi. Dari keseluruhan tema yang sudah dilalui, hari ini yang paling banyak mendominasi ruang pikir saya. Temanya berkisah ke ranah sejarah perjuangan para khalifah terdahulu : Penaklukan Konstantinopel.

Setelah diberitahu tema tersebut sekian lama otak saya bekerja mencari tahu tentang konstantinopel? Yap seingat saya kota ini berkaitan dengan negara Turki dan lebih spesifiknya lagi sekarang kota ini sudah berubah nama menjadi Istanbul. Dan ternyata selain keindahan dan perpaduan budaya yang menjadi daya tarik kota ini khususnya untuk saya pribadi, ternyata begitu tinggi peradaban yang telah terjadi di sana. Proses penaklukan yang tidak biasa-biasa saja juga dapat menajadi inspirasi bagi kita semua.



Pembinaan dan pendidikan sejak kecil sangat berpengaruh kepada seorang pemimpin

Sultan Mehmed II atau juga dikenal sebagai Muhammad Al-Fatih. Beliau merupakan seorang sultan Turki Utsmani yang menaklukkan Kekaisaran Romawi Timur. Mempunyai kepakaran dalam bidang ketentaraan, sains, matematika & menguasai 7 bahasa yaitu Bahasa Arab, Latin, Yunani, Serbia, Turki, Persia dan Israil. Beliau tidak pernah meninggalkan Shalat fardhu, Shalat Sunat Rawatib dan Shalat Tahajjud sejak baligh. Beliau wafat pada 3 Mei 1481 kerana sakit gout sewaktu dalam perjalanan jihad menuju pusat Imperium Romawi Barat di Roma, Italia. 

Nah sebelum beliau yang mengambil alih masa kepemimpinan. Para terdahulu telah berkali-kali berusaha untuk menaklukkan konstantinopel. Usaha pertama dilancarkan tahun 44 H di zaman Mu''awiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu ''Anhu. Akan tetapi, usaha itu gagal. Upaya yang sama juga dilakukan pada zaman Khilafah Umayyah. Di zaman pemerintahan Abbasiyyah, beberapa usaha diteruskan tetapi masih menemui kegagalan termasuk di zaman Khalifah Harun al-Rasyid tahun 190 H. Setelah kejatuhan Baghdad tahun 656 H, usaha menawan Kostantinopel diteruskan oleh kerajaan-kerajaan kecil di Asia Timur (Anatolia) terutama Kerajaan Seljuk. Pemimpinnya, Alp Arselan (455-465 H/1063-1072 M) berhasil mengalahkan Kaisar Roma, Dimonos (Romanus IV/Armanus), tahun 463 H/1070 M. Akibatnya sebagian besar wilayah Kekaisaran Roma takluk di bawah pengaruh Islam Seljuk. 



Mengapa konstantinopel begitu menarik? Konstantinopel merupakan salah satu kota terbesar dan benteng terkuat di dunia saat itu, dikelilingi lautan dari tiga sisi sekaligus, yaitu selat Bosphorus, Laut Marmarah dan selat Tanduk Emas yang dijaga dengan rantai yang sangat besar, hingga tidak memungkinkan untuk masuknya kapal musuh ke dalamnya. Daratannya dikelilingi oleh dinding yang tebalnya 9 meter dan tingginya 30 meter. Pentingnya posisi konstantinopel ini digambarkan oleh napoleon dengan kata-kata “…..kalaulah dunia ini sebuah negara, maka Konstantinopel inilah yang paling layak menjadi ibukota negaranya!”. Weeeew *__*



Pemimpin yang menaklukan konstantinopel adalah sebaik-baiknya pemimpin dan pasukannya adalah sebaik-baiknya pasukan.

Pada tanggal 6 april 1453, Muhammad Al-Fatih membawa 250.000 total pasukannya yang terbagi menjadi 3, yaitu pasukan laut dengan 400 kapal perang menyerang melalui laut marmara, kapal-kapal kecil untuk menembus selat tanduk, dan sisanya melalui jalan darat menyerang dari sebelah barat konstantinopel. Awal penyerangan ini dikenal dengan The Siege of Constantinple. Sampai tanggal 21 April 1453, 14 hari peperangan, tidak ada sedikitpun tanda – tanda kemenangan bagi kaum muslimin. Pasukannya meminta sudahlah Muhammad Al-Fatih kita menyerah saja! Tapi apakah Muhammad Al-Fatih menyerah, TIDAK!. Pada tanggal 29 Mei 1453, serangan terakhir dilancarkan, dan sebelum Ashar, al-Fatih sudah menginjakkan kakinya di gerbang masuk konstantinopel.


Setelah penaklukkan Konstantinopel, pasukan muslim melaksanakan shalat Jum’at untuk yang pertama kalinya di Konstantinopel. Shalat itu dilakukan di Gereja Aya Sophia yang telah dialih-fungsikan menjadi masjid. Kemudian dicarilah muslim yang paling tepat untuk menjadi imam shalat Jum’at itu. Sultan memerintahkan seluruh yang hadir di masjid untuk berdiri. Kemudian Sultan berkata,

“Siapa di antara kita yang sejak baligh hingga sekarang pernah meninggalkan shalat fardhu walau sekali, silahkan duduk!”

Maha Suci Allah, Tidak ada satu pun yang duduk! Kemudian, Sultan pun berkata,

“Siapa di antara kita yang sejak balgih hingga kini pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib, silahkan duduk!”

Lalu sebagian pasukan mujahidin duduk sehingga tersisa sebagian kecil. Lalu Sultan bertanya lagi :

“Siapa di antara kalian yang sejak baligh hingga saat ini pernah meninggalkan shalat tahajud walaupun satu malam, silahkan duduk!”

Kemudian seluruh pasukan yang tersisa pun duduk, kecuali satu orang, yaitu Muhammad Al-Fatih, Sang Pembebas Konstantinopel.

Yap ini salah satu contoh pemuda yang senantiasa menjaga sholat malamnya seorang penakluk konstantinopel. Entah kekuatan, semangat, dan persatuan seperti apa yang telah dibangunnya dan semua pasti membutuhkan proses yang tidak mudah pula. 

Kalau ingin bercita-cita besar jangan segan-segan berkorban

Tidak dapat dipungkiri kita dan Al-Fatih hidup di zaman berbeda. Beliau hidup di zaman syariat Islam tengah kokoh dalam pentas dunia dimana khalifah masih mempimpin dan melaksanakan fungsinya dengan baik. Bagaimana dengan bentuk perjuangan kita pada zaman sekarang ini? Salah satunya adalah hanya dengan membentengi diri dengan doa, akhlak, dan dakwah karena kita sadar syariat islam sedang dalam keadaan lemah. Tetap percaya dan yakin kelak kejayaan itu akan kembali lagi. Manusia yang tidak biasa-biasa saja akan lahir kembali.

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright 2035 Tinta Maple
Theme by Yusuf Fikri