“Setiap
dari kamu adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas
perbuatannya.” (HR.Bukhari)
Seperti biasa hujan
mencoba kembali mencari perhatian saya, menampakkan dirinya ditengah saya ingin
menghindarinya. Selalu begitu. Basah sudah menjadi hal biasa, sistem pertahanan
anti dingin dalam tubuh saya siap aktif dengan kualitas terbaik mereka karena
sudah terlatih sejak dulu. Namun tidak
seperti biasa, hari ini saya memilih untuk berteduh daripada kembali bermain
kejar-kejaran bersama hujan toh minggu kemarin saya kalah. Handphone rusak
akibat bermain sudah cukup memberi pelajaran.
Untuk
menghabiskan waktu menunggu hujan saya memilih pohon rindang di persimpangan
jalan, kemudian tidak jauh dari pohon itu ternyata ada jejeran warung kopi lalu
dengan segelas teh hangat saya siap merenung dan menunggu berhentinya hujan. Disela-sela
renungan saya diam-diam memperhatikan obrolan mbak-mbak di depan saya.
Mbak 1 : “Aduhh
sialnya ini hari sumpahh!”
Mbak 2 :”
Seandainya tadi Anto suruh mki prg duluan nda sampai basah begini!!”
Mbak 1 :
“Hmmm.... karma mi ini mungkin karena kemarin saya kasih hujan-hujanki juga
Anto”
Waduh parah nih
si bang Anto. Kira-kira hubungan mas Anto sama mbak-mbak ini apa yah? Tampang
mas Anto itu gimana? Lah kok mau di kasih nama Anto (Anto = Anak tolo) wkwk?
,membatin. Baiklah yang menjadi refleksi hari ini bukan mas Anto nya -____-.
Dari percakapan mbak-mbak tadi ada yang mengganjal dihati dan pikiran saya.
Tentang karma? Betulkah ia ada? Kenapa karma selalu di hubungkan ke sesuatu
yang negatif? Saya tidak pernah mendengar jika ingin berbuat baik pada orang
lain lala ada yang menegur, “awas hati-hati berbuat baik sama dia, nanti dapat
karma looh!” hehee. Setelah merenung dan mencari beberapa refrensi, sedikit
saya bisa berbagi tentang karma.
Pemahaman
tentang karma adalah meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup
manusia adalah akibat perbuatan manusia itu sendiri. “Karma” berarti “hukum
sebab-akibat moral” . Misalkan, jika ada orang yang tertimpa musibah dan sial
terus-menerus setahun non-stop, maka itu semua adalah akibat perbuatan yang dia
lakukan di masa lampau. Jika tidak mendapat balasan semasa hidup di dunia, maka
akan dibalaskan kepada keturunannya. Jadi ada dosa warisan/turunan dalam hukum
karma.
Lalu bagaimana
Islam memandang hukum karma?
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan
seberat dzarrah (biji atom), niscaya dia akan menerima (balasan-nya). Dan
barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah (biji atom) pun, niscaya
dia akan menerima (balasan)-nya.” (QS. Al-Zalzalah [99]: 7-8)
Islam adalah
agama yang menjujung tinggi keadilan. Kita meyakini bahwa Allah Maha Adil dan
segala perbuatan kita pasti akan ada balasannya, baik di dunia ataupun di
akhirat nanti. Islam tidak mengenal adanya dosa yang akan diwariskan kepada
keturunannya. Karena setiap manusia harus bertanggung jawab terhadap apa yang
dia lakukan, bukan orang lain ataupun keturunannya. Selain itu, tidak semua
yang terjadi di dalam hidup manusia adalah investasi kebaikan dan kesalahan di
masa lalu. Karena bisa jadi kebaikan yang di dapatkan manusia itu adalah
rahmat-Nya, atau bisa juga permasalahan yang dihadapi adalah suatu cobaan
dari-Nya yang bertujuan untuk menguji keimanan manusia agar dapat lulus di
tingkat selanjutnya.
Jelaslah
perbedaan mendasar antara hukum karma dengan apa yang diyakini oleh Islam.
Bahwa segala perbuatan ada balasannya. Jika manusia itu berbuat baik, maka
balasannya pun pahala dan kebaikan, jika manusia itu berbuat kejahatan, maka
dosalah balasannya.
Jika di dunia
belum dibalaskan, maka yakinlah bahwa di akhirat kita tidak akan lolos. Point
nya kita harus berusaha untuk terus berbuat baik dimana pun dan kapan pun. Nah
jika ada yang berbuat jahat pada kita? Sebaiknya kita memilih tenang lalu tidak
perlu dendam karena tidak ada satu pun yang terlewat dari pandangan-Nya : )
0 komentar:
Posting Komentar